Halaqoh Maghrib & Shubuh: Rahasia Santri Dalwa Meluruskan Pemahaman Kitab Setiap Hari
Lantunan wirid Shubuh baru saja usai, namun tak seorang pun santri beranjak dari shaf-nya. Di dalam Masjid Baitul Ghoffar, lingkungan Pondok Pesantren Darullughah Wadda'wah (Dalwa), Pasuruan, ribuan santri justru merapatkan barisan. Mereka menanti sosok yang akan menuntun mereka menyelami kitab: para syekh dari mancanegara dan sang pengasuh pondok. Pemandangan yang sama kembali terulang setiap petang, tepat setelah wirid Maghrib.Inilah halaqoh—majelis ilmu yang menjadi denyut nadi keseharian santri Dalwa. Digelar dua kali dalam sehari, halaqoh berlangsung setiap seusai wirid Shubuh hingga pukul 06.00 dan setelah wirid Maghrib hingga pukul 20.15 WIB. Dua ruang waktu yang menjepit pagi dan petang itu sengaja dijaga agar ilmu tak pernah absen dari hari-hari santri.Kegiatan ini diikuti oleh seluruh santri tingkat Tsanawiyah (menengah) dan Aliyah (tinggi). Alih-alih membubarkan diri seusai wirid, mereka tetap duduk bersila, membuka kitab yang telah ditentukan untuk hari itu, dan menunggu para pembimbing hadir di hadapan mereka. Sebuah kebiasaan yang menuntut kesabaran sekaligus kesungguhan.Yang membuat halaqoh ini istimewa adalah para pengampunya. Santri tidak sekadar membaca kitab, melainkan menimba ilmu langsung dari para syekh yang datang dari luar negeri, serta dari pengasuh pondok, Abuya Habib Ali Zainal Abidin bin Hasan Baharun. Kehadiran para ulama lintas negara ini menjadikan halaqoh bukan hanya ruang belajar, tetapi juga jembatan yang menghubungkan santri dengan sanad keilmuan yang otoritatif.Di majelis inilah pemahaman santri diasah dan diluruskan. Setiap bab yang dibaca dibedah bersama, setiap kekeliruan tafsir diperbaiki, dan setiap pertanyaan menemukan jawabannya. Dengan kitab yang berganti sesuai jadwal harian, santri dituntun memahami teks secara runtut—tidak sekadar menghafal, tetapi benar-benar mengerti.Dari dua majelis yang berlangsung di ujung pagi dan penghujung senja itu, tergambar sebuah tradisi keilmuan yang dirawat dengan baik. Di Masjid Baitul Ghoffar, ilmu tidak menunggu waktu luang—ia dijemput tepat setelah lisan selesai berwirid, saat hati masih basah oleh dzikir dan siap menerima cahaya pengetahuan.