Dalwa TV Logo

MADYAN : SEKULARISME KUNO

18 Oct 2026 Oleh: Tim Redaksi Pesantren
MADYAN : SEKULARISME KUNO

Sekularisme, Syed Muhammad Naquib Al-Attas dalam buku “Islam and Secularism” menyebutkan “Sekularisme adalah proyek besar yang bertujuan menyingkirkan agama dari semua ranah kehidupan, bukan hanya dari politik.”. Beliau melihat sekularisme bukan sekadar memisah agama dengan negara, namun desakralisasi total seluruh kehidupan. 

Ternyata, jauh sebelum Nabi Muhammad ﷺ diutus, ada suatu kaum yang menerapkan pemahaman ini pada diri mereka, yaitu kaumnya Nabi Syuaib ╟ (Kaum Madyan). Ayat yang menuturkan cerita ini adalah surat Hud, 84-94. Dan di sini, maka penulis akan mencoba menarasikannya dalam bentuk cerita.

Kaum Madyan, bangsa makmur yang hidup dari perdagangan dan pertanian. Mereka ahli dalam timbangan dan takaran, tetapi banyak dari mereka curang. Dalam diam, mereka mengurangi takaran, menipu dalam jual beli, dan memutar hukum demi keuntungan pribadi.

Di tengah mereka, Allah ﷻ mengutus seorang Nabi bernama Syuaib ╟, seorang lelaki lembut, fasih, dan saleh. Ia berdiri di pasar, Ia tidak datang membawa pedang, hanya kata. Tidak datang menuntut harta, hanya kejujuran. Di tengah orang-orang yang menjadikan keuntungan sebagai sembahannya.

Imam Fakhruddin Ar-Rozi menyatakan bahwa Nabi Syuaib as memerintahkan mereka dengan dua perkara, yaitu ajaran tauhid dan meninggalkan البَخْسِ, yaitu mengurangi takaran timbangan jual-beli. 

Namun, sebagian besar kaum Madyan mencibirnya. Mereka melihatnya bukan sebagai Nabi, melainkan pengganggu ketenangan bisnis. Seorang tokoh dari kaum Syuaib, dengan nada sinis berkata : "Syuaib, serius kamu ini? Apa gara-gara ibadahmu itu, kamu melarang kami menyembah apa yang biasa disembah leluhur kami? Atau kamu mau atur-atur kami soal bagaimana kami berdagang dan pakai harta kami sendiri? Kami ini sudah dewasa, tahu mana yang baik."

Tokoh lain menimpali, dengan nada menyindir "Padahal kamu kan terkenal orang baik, pintar lagi. Tapi kenapa sekarang seolah kamu menentang tradisi kita sendiri?" 

Nabi Syuaib, dengan sabar dan hati-hati menerangkan : "Wahai kaumku, coba kalian pikir baik-baik. Kalau aku punya bukti yang nyata dari Tuhanku, dan Dia telah memberiku rezeki yang halal. Apakah aku harus mengikuti jalan kalian yang salah?"

Nabi Syuaib, menatap mereka dengan tulus : "Aku tidak ingin menyuruh kalian berhenti, lalu diam-diam aku sendiri melakukannya. Tidak. Aku hanya ingin memperbaiki keadaan, sebisaku. Dan aku tahu, semua ini tidak akan berhasil tanpa pertolongan Allah."

 

Sumber Buletin Tarqiyah