Membentuk Generasi Disiplin: Kontribusi Divisi Ketertiban Terhadap Karakter Santri Dalwa
Pasuruan, DalwaTv – Ketertiban dan kedisiplinan menjadi pondasi utama kehidupan santri di Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah (Dalwa). Demi menjaga ritme aktivitas yang tertata, Divisi Ketertiban dari Organisasi Santri Darullughah Wadda’wah (ORSADA), yang diisi oleh santri kelas 3 Aliyah, terus menjalankan tugasnya sebagai penjaga keteraturan di setiap kegiatan pondok.
Setiap menjelang sholat lima waktu, anggota Divisi Ketertiban terlihat bergerak cepat menuju area masjid. Mereka memastikan seluruh santri menuju masjid tepat pada waktunya, mengenakan gamis putih, memakai imamah, serta membawa buku wirid sebagai perlengkapan wajib. Dengan sikap tegas namun tetap sopan, mereka menertibkan santri yang terlambat atau tidak memenuhi aturan sebelum memasuki masjid.
Bagi santri yang melanggar, mereka akan diarahkan untuk berdiri di luar masjid hingga pembecaan wirid selesai. Setelah itu, sanksi diberikan sesuai ketentuan pondok, mulai dari takdzir, merapikan sandal, hingga tugas ketertiban lainnya. Langkah ini diambil sebagai bentuk pendidikan agar para santri memahami pentingnya kedisiplinan dalam aktivitas ibadah maupun kegiatan sehari-hari.
Tak hanya pada waktu sholat, Divisi Ketertiban ORSADA juga bertugas di berbagai momen lain, seperti saat keberangkatan sekolah, waktu istirahat, hingga kegiatan wajib pondok. Mereka memastikan seluruh santri menjalankan rutinitas dengan tertib, tepat waktu, dan sesuai standar adab yang berlaku di lingkungan pesantren.
Kepala Divisi Ketertiban menegaskan bahwa tujuan utama mereka bukanlah menghukum, melainkan mengarahkan. Peran ini juga menjadi bentuk pengabdian santri kelas akhir dalam memberikan contoh karakter yang baik bagi adik kelas. Dengan sistem kerja yang teratur, ORSADA berupaya menjaga agar suasana pondok tetap nyaman, kondusif, dan berjalan sesuai kaidah yang telah ditetapkan.
Ditemui usai menjalankan tugas ketertiban sholat Isya, Muhammad Maulana, salah satu anggota ORSADA, menjelaskan bahwa tugas mereka bukan sekadar menegakkan aturan.
“Tugas kami ini bukan hanya soal menegur atau menindak. Tapi bagaimana kami bisa mengajak teman-teman untuk merasakan bahwa disiplin itu penting. Khususnya soal sholat lima waktu, itu kan ruhnya pesantren,” ujarnya.
Menurut Maulana, pelanggaran yang terjadi umumnya hal-hal kecil seperti tidak memakai gamis putih, lupa membawa wirid, atau tidak mengenakan imamah. Namun, ia menegaskan bahwa ketertiban kecil itulah yang membentuk karakter besar.
“Kalau dari hal kecil sudah terbiasa tertib, insyaAllah ke depannya mereka juga terbiasa disiplin dalam hal-hal besar. Itulah yang kami jaga,” tambahnya.
Bukan hanya anggota ORSADA, para santri pun merasakan manfaat dari adanya pengawasan ketertiban. Ahmad Hafidz, santri kelas 2 Ibtida’iyah, mengaku awalnya ia sering lalai dalam kelengkapan seperti imamah dan buku wirid. Namun berkat Divisi Ketertiban, ia perlahan terbentuk menjadi pribadi yang lebih disiplin.
“Dulu saya sering lupa bawa wirid atau kadang telat sholat berjamaah. Kalau ketertiban datang, ya mau nggak mau harus siap. Awalnya takut, tapi lama-lama saya sadar itu malah membuat saya lebih teratur,” ungkapnya.
Ahmad menambahkan bahwa para anggota ORSADA tidak hanya menegur, tetapi juga memberi teladan langsung.
“Mereka itu tegas, tapi nggak kasar. Mereka tunjukkan kalau disiplin itu bukan untuk mempersulit, tapi mempermudah hidup kita sebagai santri. Sekarang saya malah bersyukur ada mereka,” jelasnya.
Peran besar Divisi Ketertiban ORSADA menunjukkan bahwa ketegasan, tanggung jawab, dan keteladanan dapat dibentuk sejak dini. Dengan kerja keras mereka, kehidupan pesantren tetap berjalan harmonis, tertata, dan penuh nilai pendidikan yang membentuk karakter santri Dalwa untuk masa depan.